Newsletter subscribe

ROCKSTAR ATTITUDE

Yulio ‘Piston’: Jangan Takut Untuk Berkolektif!

Posted: February 16, 2020 at 9:30 pm   /   by   /   comments (0)

Di dalam ilmu sosiologi kriminal, ada satu istilah yang disebut Efikasi Kolektif. Cetusan ini mengacu pada kemampuan suatu komunitas dalam mengontrol perilaku tiap-tiap individu dan beragam kelompok di dalam komunitasnya. Kontrol terhadap perilaku itu bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan sesuai keinginan bersama.

Meski konteksnya cukup luas, pengertian tersebut bisa dihubungkan dengan kehidupan bermusik, yang di dalamnya memuat kantong-kantong kreatif dengan berbagai program dan visi. Dari skala internasional yang gigantik, nasional hingga ke ruang sempit di bawah.

Soal masyarakat dalam lingkup musik, suka tidak suka pembicaraan akan mengacu pada pasar, siapa dan seberapa, apa dan bagaimana, itu nantinya akan terbentuk. Komunitas musik, atau yang kini kerap disebut sebagai kolektif musik, memiliki andil cukup signifikan dalam setiap gelaran pertunjukan.

Entah sebagai tim hore yang meramaikan, atau malah memberanikan diri maju sebagai pelaksana, seperti beberapa tahun belakangan. Semarak kehadiran mereka mulai wangi dan tercium banyak pihak.

Terkadang malah, kehadirannya sampai dijadikan tolak ukur sejauh mana penetrasi sudah dilakukan menembus lapisan-lapisan tertentu. Komunitas atau kolektif memiliki inovasi dan kreativitas yang kadang sulit terpikirkan oleh produk brand tertentu.

Hal terpenting adalah rasa percaya diri akan selera dan preferensi masing-masing pegiatnya. Itulah dorongan utama bagaimana mesin mereka terus diusahakan berjalan.

Hadir dengan jiwa yang menggebu, bermodalkan ide gila dan semangat pembaruan, berbagai kolektif musik di Indonesia mulai berani mewujudkan mimpi-mimpi spektakuler yang sebelumnya mungkin hanya menjadi bumbu tongkrongan.

Sebelum melanjutkan, mari ambil contoh yang lebih sederhana, perwakilan jiwa alternatif dan nama-nama baru. Saat ini, tanpa mengurangi rasa hormat, mari kesampingkan sejenak nama-nama seperti Komunitas Potlot, Ujung Berung, Tongkrongan Musik IKJ, Pegangsaan Gang dan lainnya.

Karena kini ada langkah segar yang dimulai oleh Studiorama, kolektif musik yang berbasis di Jakarta sejak tahun 2011. Dikenal lewat gelarannya yang bermacam, dari Studiorama Live, Collider, Ascension, Archipelago Festival, Ornaments, kerjasama dengan Museum Macan, Synchronize Fest, NTS Radio, Ruangrupa, Localfest, hingga konser Mac DeMarco, The Garden dan lainnya.

Studiorama

Kemudian Noisewhore, sebuah kolektif musik yang berbasis di Jakarta sejak tahun 2013. Berawal dari sebuah zine dan blog musik, Noisewhore perlahan merubah diri menjadi promotor independen. Lewat pentas bertajuk Noisewhore Live, mereka menghadirkan deretan artis dari dalam dan luar negeri, seperti Bedchamber, Fazerdaze, Homeshake, Cosmo Pyke, Peach Pit, Mitski dan lainnya.

Lalu ada Pesona Experience, kolektif musik yang berbasis di Jakarta sejak tahun 2018. Pesona Experience bertindak sebagai label rekaman dan promotor independen. Sejauh ini, Pullo (dark wave) dan Envy (hip-hop) adalah dua nama yang bernaung dibawah label mereka. Selain itu, Pesona Experience juga mendatangkan Cuco, Preditah, hingga Drab Majesty.

Six Thirty Recordings, kolektif musik yang berbasis di Jakarta sejak tahun 2016. 630 bertindak sebagai label rekaman dan promotor independen. Sejauh ini, eleventwelfth (alternatif) dan Fuzzy, I (alternatif) adalah dua nama yang bernaung dibawah label mereka. Selain itu, 630 juga mendatangkan Margudergrind, Marijannah, Protomartyr, Cult Leader hingga American Football. Selain mereka tentunya masih ada, dengan beragam fokus dan ranah yang berbeda.

Penulis sengaja mengambil contoh dari Jakarta karena penulis sendiri berdomisili di Jakarta. Kalau di daerah dan kota kalian masing-masing ada kolektif atau komunitas yang memiliki semangat yang sama gilanya dengan mereka-mereka ini, silakan tulis di kolom komen ya!

Meski kadang kolektif atau komunitas musik masih sering dianggap hanya sepenggal kata, mereka sebetulnya berperanan sebagai penanda peradaban industri saat ini, dan bukan mustahil hingga beberapa tahun selanjutnya.

Ada yang berangkat dari hobi menulis serta reportase, dan kemudian berkembang menjadi promotor alternatif bagi jiwa-jiwa yang haus akan rasa baru. Mereka tak melulu menjual nilai dan sisi nostalgia, melainkan nama muda yang banyak diperbincangkan oleh golongan tertentu yang ternyata memiliki daya beli cukup tinggi. Ada yang berisi dari sekumpulan pertemanan akrab yang masing-masing memiliki keahlian dari mulai mengurus keuangan, jago gambar, sampai representasi tongkrongan gaul masa kini.

Mereka menempatkan diri sebagai fans musik ketika menghelat suatu gelaran. Mereka tahu betul apa saja yang bisa membuat senang fans musik, dan apa saja larangannya. Semua yang berlandaskan kecintaan, biasanya dalam proses eksekusinya tidak akan mengecewakan.

Berawal dari konsistensi, kemudian tidak sedikit yang kemudian menaruh kepercayaan. Ada authenticity yang terus digenjot hingga melahirkan sesuatu yang belum pernah ada. Salah satunya seperti konferensi musik dengan para pembicara kelas wahid, yang dimeriahkan oleh pengisi acara yang tampil di beberapa lokasi terpisah, ya mirip SXSW di Amerika lah.

Dan bila bicara band-band arus sidestream yang hadir ke Indonesia, pastinya akan terlalu banyak bila dijabarkan disini satu persatu. Setiap gelaran ada yang untung besar, dan kadang merugi. Namun bukan itu persoalan utamanya. Membuat nyata mimpi-mimpi adalah keberanian yang patut diacungi jempol.

Jadi, jangan pernah takut untuk memulai apa yang diyakini. Bentuk ruang-ruang kecil di sekitar, cari yang satu selera, lalu hajar! risiko terkait angka-angka bisa diatasi nanti, dan tidak melulu hal tersebut yang menjadi masalah utama kalau dilandasi dengan semangat kolektif yang sama.

Percaya bahwa kesenian tidak lagi bisa berkutat dengan diri sendiri, sudah harus disadari segera. Menjadi kolektif dan kolaboratif adalah cara paling rasional untuk mengambil posisi, serta membuat apa yang dibawa mampu didengar secara lebih luas lagi. Kerja sama, pertukaran gagasan sampai eksperimentasi akan hadir setelahnya. Secara organik masing-masing akan menemukan peranannya.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website