Newsletter subscribe

SEART-B(H)UTAN

Pertimbangan Mengambil Langkah Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19

Posted: April 5, 2020 at 2:19 pm   /   by   /   comments (0)

Ketika bekerja dari rumah saat wabah COVID-19 telah menyebar ke seluruh negara, saya jadi berpikir kondisi ini bakal mengubah dunia bisnis ke depan. Kita mulai bertanya-tanya, Apa rencana cadangan kita? Apalagi bila kita adalah pelaku usaha kecil, atau menjalankan sebuah startup.

Pada kondisi seperti ini, salah satu hal positif yang saya rasakan jadi punya lebih banyak waktu untuk membaca dan menulis. Karenanya, saya ingin berbagi apa yang telah saya pelajari dari beragam sumber bermanfaat (dengan penyampaian lebih simpel dan mudah dibaca … semoga). Ini bisa membantu kita untuk menyusun rencana ke depan.
Perencanaan

Seperti yang telah dijabarkan dalam matriks dari Sequioa terkait COVID-19, “Kita semua harus mengambil keputusan, dan kondisi dari tiap perusahaan berbeda-beda. Tapi, tak peduli dalam situasi apa atau bagaimana bayangan masa depan yang ingin kamu raih, memakai pendekatan ini akan membuat konsekuensi dari keputusan-keputusan itu jadi lebih jelas.”

Saya pribadi menyarankan agar menggunakan matriks di bawah ini untuk mengetahui lebih dahulu kondisi masing-masing, lalu menyusun beberapa strategi untuk mengarahkan bisnis ke depan.
Matriks asesmen kondisi bisnis dari Sequoia Capital

Tanyakan pada diri sendiri, apakah tantangan yang dialami bisnis saya bakal berlangsung selama tiga bulan, satu tahun, atau tiga tahun ke depan?

Sebelum menyusun sejumlah langkah konkret, ingat bahwa nominal belanja konsumen dan perusahaan kemungkinan besar bakal turun. Efek tersebut tidak akan merata di berbagai industri serta subsektornya. Dengan memahami ini, kita bisa memilah-milah tipe konsumen serta konsekuensi setelahnya.

Steve Blank, mantan serial entrepreneur yang beralih profesi jadi dosen di sejumlah universitas terkemuka Amerika Serikat, mengemukakan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Bila menghadapi tantangan berdurasi tiga bulan, segera bekukan biaya-biaya variabel (rekrutmen, pemasaran, perjalanan bisnis, dll.) Langkah ini mungkin cocok diaplikasikan pada sejumlah sektor, seperti pengembangan teknologi untuk mempermudah pekerjaan manusia, pendidikan digital, e-commerce, layanan logistik, biotech dan sains, serta kesehatan digital.

Bagi perusahaan yang harus menghadapi tantangan berdurasi satu tahun, mulailah menyusun ulang bisnis:

Pangkas burn rate perusahaan (seperti melakukan pemutusan hubungan kerja dan pengurangan tunjangan untuk mengurangi biaya variabel).
Negosiasi ulang biaya-biaya tetap (biaya sewa bangunan, peralatan kantor, dll.), atau
Mengubah strategi penjualan.

Apa pun product/market fit yang dimiliki perusahaan bulan lalu, semua itu sudah tak relevan lagi dan perlu disesuaikan dengan kondisi sekarang. Apakah kondisi ini menciptakan peluang baru dan menutup kesempatan lain? Apa kita perlu memodifikasi produk?

Kondisi ini mungkin terjadi pada sejumlah sektor, seperti fintech, asuransi, layanan pembayaran, komputasi awan, rekrutmen, penyedia tool DevOps, perdagangan lintas negara, hingga pasar modal.

Bila perusahaan dihadapkan pada tantangan yang bakal berlangsung selama tiga tahun, sekadar menyelamatkan hal-hal esensial dan memangkas biaya tak lagi cukup. Kita perlu memikirkan model bisnis baru.

Pikirkan bagaimana menyesuaikan sebagian bisnis untuk bisa terus beroperasi di tengah imbauan pembatasan fisik.
Apakah produk bisa dijual, dikirim, atau diproduksi secara online? Apa ada manfaatnya bila produk disampaikan lewat daring?
Jika tidak, apakah produk/layanan bisa dimanfaatkan untuk menyelamatkan pihak-pihak terkait dari dampak kelesuan ekonomi?

Saya pikir kondisi ini bakal dihadapi sejumlah industri, seperti travel, barang-barang mewah, penyelenggara event, dan mungkin bisnis di sektor D2C.

Dengan situasi saat ini, kita sebaiknya tidak menaruh harapan pada kontrak-kontrak bisnis yang belum mencapai kesepakatan. Anggap calon klien kemungkinan juga harus melakukan penghematan agar bisa terus bertahan.

Kecuali produk atau layanan yang kita berikan benar-benar dibutuhkan klien, kita harus siap menghadapi penangguhan pembayaran, atau bahkan mengalami pembatalan kontrak sama sekali.

Kaji ulang target penjualan dan skedul produk, buat model bisnis dan rencana operasional baru, serta komunikasikan secara jelas kepada para investor dan karyawan. Buat mereka fokus dan paham secara menyeluruh akan strategi perusahaan yang baru dan masuk akal.

Perampingan usaha

Meski keputusan merampingkan perusahaan sulit diambil, keberlangsungan bisnis adalah hal paling utama yang harus dijaga. Steve Blank juga menyebut beberapa pertimbangan terkait pemutusan hubungan kerja:

Opsi pertama adalah pemotongan gaji jajaran eksekutif atau manajemen senior demi mempertahankan para staf yang menggantungkan hidup dari pekerjaannya.
Demi mempertahankan para pegawai cemerlang yang bergaji lebih tinggi, kita bisa mempertimbangkan skema kepemilikan saham perusahaan sebagai kompensasi dari pemotongan gaji.
Jika perusahaan perlu melakukan perampingan jumlah karyawan, lakukan dengan empati. Tawarkan kompensasi yang ekstra.

Dalam keadaan terburuk saat mulai kehabisan dana untuk beroperasi, jangan mengulur-ulur waktu sampai kas benar-benar habis. Berbesar hatilah dan pastikan sisa dana masih cukup untuk membayar gaji karyawan atas pekerjaannya selama dua minggu terakhir atau lebih.
Akhir kata

Kita semua sama-sama mengalami masa sulit ini. Jaga kesehatan dan keamanan masing-masing. Karma baik bakal menghampiri para CEO yang berusaha memikirkan keselamatan semua anggota timnya sebelum menyelamatkan diri sendiri.

Seperti yang dikatakan oleh Steve Blank, “Bersiaplah untuk menghadapi masa sulit yang berkepanjangan. Tapi juga ingatlah, tidak ada masa sulit yang berlangsung selamanya. Justru di masa-masa itulah para founder dan VC yang cerdas bakal menanamkan benih untuk startup generasi selanjutnya.”

Source : https://id.techinasia.com

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website