Newsletter subscribe

MOVEMENT

Seleksi Film Joko Anwar dalam Program Goethe

Posted: July 15, 2020 at 11:36 am   /   by   /   comments (0)

ROCKMAGZ.ID – Dalam program BINGKIS milik Goethe-Institut pekan ini, sutradara film Joko Anwar akan berbagi seleksi film yang merefleksikan situasi yang tengah dihadapi saat ini dan memprediksi kondisi dunia pascapandemi melalui film-film tersebut. Perbincangan bertajuk “The Fiction – The Prediction #2” ini akan dipandu pemrogram film Sugar Nadia dan disiarkan langsung di kanal Instagram Goethe-Institut Indonesien. Pembatasan perjalanan/perpindahan, resesi ekonomi, penyusutan level karbon dioksida, maraknya inisiatif-inisiatif warga, kesuksesan atau krisis kepemimpinan, dan buka-tutup batas negara adalah beberapa hal yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Cemas, frustrasi, dan khawatir kerap kita rasakan sejak Maret ketika WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Ketika kita merasa lelah dengan kenyataan, banyak dari kita yang beralih ke kenyamanan khayalan melalui film.

Joko Anwar dan Sugar Nadia akan berbagi pemikiran apakah pandemi ini mengingatkan kita kepada film-film yang pernah kita tonton, dengar, atau pun yang ingin kita buat. Beberapa film yang akan dibahas berhubungan dengan beberapa isu seperti ketakutan terhadap hal-hal tidak dikenal (penyakit, virus, kekuatan ekstraterestrial), teori konspirasi tentang hal tidak dikenal, kebingungan, hingga kekuatan karakter manusia sebagai penyintas di masa sulit. Pada edisi pertama “The Fiction – The Prediction” yang tayang 21 Mei lalu, Goethe- Institut Indonesien menghadirkan Lisabona Rahman (pemrogram dan pengarsip film) beserta Sebastian Winkels (pembuat film dokumenter asal Jerman). Pada kesempatan itu, film dan serial televisi yang dinilai merefleksikan kondisi pandemi di antaranya 100 Jahre Adolf Hitler – Die letzte Stunde im Führerbunker (1989), 28 Days Later (2002), Dark (2017-2020), Das Leben der Anderen (2006), Philadelphia (1993), Safe (1995), dan The Way Back (2010).

Beberapa waktu kemarin, Goethe-Institut juga merilis sebuah program digital yang diberi nama Sound of X. Ini adalah kebaruan dari mereka yang akan menghadirkan ragam video bunyi lingkungan (soundscape) yang diciptakan oleh banyak musisi dan seniman yang berasal di sekitar Asia Tenggara, termasuk dari Medan, Indonesia. Dengan menggunakan bunyi, kebisingan, dan akustik sebagai dasar untuk melakukan penafsiran ulang terhadap kota, para musisi dan seniman tersebut berkeliling di banyak lingkungan untuk mencari tahu dan mengusulkan cara unik untuk terhubung kembali dengan kota dan ruang yang kita diami, khususnya setelah ada pandemi Covid-19, yang telah memaksa orang-orang di seluruh dunia untuk mengisolasi diri.

Semua pengkaryaan dari video soundscape tersebut bisa diakses dengan bebas di www.goethe.de/soundofx dan di kanal-kanal media sosial Goethe-Institut mulai tanggal 19 Juni 2020. Sound of X diprakarsai oleh Goethe-Institut sebagai proyek internasional dengan fokus Asia Tenggara, sebelum krisis virus corona merebak. Sejumlah seniman dari berbagai kota di Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menyajikan karya-karya yang meninjau latar bebunyian kota yang terabaikan dan bagaimana musikalitas kehidupan sehari-hari membeberkan kekhasan rajutan sosialnya.

Di tengah kondisi swakarantina, pembatasan sosial, dan penyebaran wabah yang terus menerus berlangsung, Sound of X menawarkan cara yang unik untuk menjelajahi tempat-tempat berbeda. Musisi dan artis dari Medan, Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, Manila dan kota-kota lain mengeksplorasi tentang apa itu kebisingan, bunyi, dan bagaimana orang dapat mendengarkan dengan cara berbeda. Perspektif tidak lazim yang diusung oleh para seniman dan musisi ini kontras dengan hal-hal yang lazim diangkat dalam promosi pariwisata di media sosial.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website