Newsletter subscribe

INDUSTRIE

Sisi Lain Lagu Green Day “Father of All Motherfuckers”

Posted: July 18, 2020 at 11:40 pm   /   by   /   comments (0)

ROCKMAGZ.ID – Band punk paling mainstream sedunia Green Day memberikan kejutan dengan album studio ke-13 mereka, Father of All Motherfuckers. Album ini merupakan album Green Day dengan durasi terpendek, berisi 10 lagu yang kelar didengarkan hanya dalam waktu 26 menit. Setelah mendengarkan tiga single yang telah dirilis terlebih dahulu, meski sempat terkejut, para fans tetap semangat menunggu untuk mendengarkan lagu-lagu yang belum dirilis yang tersisa di album ini.

Pada bulan September 2019, band ini menggelar gig kejutan di Whiskey Go Go di Sunset Blvd. untuk mendukung peluncuran pengumuman “Hella Mega Tour” mereka yang akan datang, yang akan digelar di stadion terbuka seantero Amerika Serikat (AS) bersama Weezer dan Fall Out Boy yang seharusnya berjalan Maret lalu namun, you know, diundur karena wabah Covid-19. Beberapa kritikus menilai bahwa popstar seperti Billie Eilish mampu menjual habis tiket konser berskala stadion tanpa mesti berbagi panggung dengan siapa pun alias tunggal, yang menyiratkan bahwa band rock – bahkan yang nge-top dan sukses – pun perlu band-band pendamping untuk memenuhi kapasitas venue yang sama. Yang pasti rock tidak pernah mati, soal merajai industri musik atau tidak tergantung seberapa besar daya ledak sebuah album baru di pasaran. Bagaimana dengan Father of All…?

Di album ini Green Day seperti memberi pendengar pelajaran sejarah rock and roll. Dimulai dengan riff utama lagu pembuka ‘Father of All…’ yang mengingatkan kepada ‘Fire’-nya Jimi Hendrix. Kemudian penghormatan dilanjutkan kepada The Beatles dengan ‘Stab You in the Heart’, sebuah lagu “throwback” rock and roll era awal yang cocok buat berdansa “twist”. Single ketiga ‘Oh Yeah!’ lebih kentara lagi, lagu ini mengutip bagian chorus dari lagu hit 1970-an Gary Glitter, ‘Do You Wanna Touch Me?’ yang kemudian dicover oleh Joan Jett and The Blackhearts pada 1984. Sedangkan lagu penutup ‘Graffitia’ mengingatkan kepada Billy Idol era 1980, seperti lagu-lagu lainnya terdapat banyak sequence tepuk tangan.

Lagu-lagu seperti ‘Father of All…’ dan ‘Fire, Ready, Aim’ memang menampilkan gaya vokal Billie Joe Amrstrong dan musiknya yang berbeda. Lagu-lagu di album ini seperti meninggalkan hampir semua yang Green Day pernah rilis dalam 10 tahun terakhir, sekarang menjadi lebih banyak menghasilkan aransemen yang menyerupai pop, sering kali mencakup beberapa harmoni vokal yang ber-layer, dan penggunaan piano, dan kurang bernuansa “garage” secara produksi sound. Lebih menginkorporasi elemen musik Soul dan R&B dari artis-artis keluaran Motown Records era 1960an. Lebih banyak anthem dansa ketimbang moshing dan pogo. Satu-satunya lagu yang Green Day banget adalah ‘Sugar Youth’, membuat kita bisa memejamkan mata sambil membayangkan lagu yang belum dirilis dari Dookie (1996), dengan Billie Joe yang masih berumur 22 tahun main gitar sambil nyanyi dengan mata melotot.

Selain pelajaran sejarah rock dalam waktu kurang dari 30 menit album ini, yang perlu digarisbawahi adalah liriknya yang selalu menjadi poin kuat bagi Billie Joe Armstrong yang tetap setia pada tema punk pada lagu-lagu seperti ‘I was a Teenage Teenager’: “Aku adalah seorang remaja remaja yang penuh dengan kencing dan cuka” dan “Hidupku berantakan dan sekolah hanya untuk pecundang”.

Satu hal yang pasti, begitu banyak bertebaran hook di sepanjang album sehingga sekali dengar langsung nyantol di kuping. Suka atau tidak itu relatif. Tapi nyantol karena saking catchy-nya, itu pasti.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website