Newsletter subscribe

ROCKZONE

Review : Warhol yang Mengabadikan Monroe

Posted: August 5, 2020 at 11:22 pm   /   by   /   comments (0)

ROCKMAGZ.ID – 5 Agustus 1962, 58 tahun silam, tepat hari ini, Marilyn Monroe meregang nyawa di usia 36. Seperti yang dilaporkan oleh New York Mirorr (6/8/1962), dugaan kuat kematiannya adalah ia bunuh diri dikamarnya dengan menegak 50 tablet obat tidur. Daya tarik atas kematian Marilyn tak kalah besar dengan pamornya di dunia hiburan. Dengan banyaknya dugaan, teori konspirasi pun mulai bermunculan. Mulai dari dugaan bahwa ia dibunuh oleh pembantunya, Eunice Murray, sampai dengan dugaan pembunuhan berencana yang melibatkan lingkaran keluarga Kennedy.

Tak bisa dipungkiri, petualangannya dalam urusan asmara pun mengantarakan Marilyn pada banyak kontroversi. Selain dari pengalaman perceraiannya berkali-kali, Salah satu kontroversi terbesarnya adalah ketika ia menjalin hubungan dengan presiden John F Kennedy yang membuat geger Gedung Putih lantas menjadi skandal besar di Amerika Serikat. Tak hanya dengan John, Marilyn pun terlibat hubungan asmara dengan kedua saudara John, yakni Bobby dan Jack Kennedy. Bahkan konon Marilyn akan mengungkap perselingkuhan tiga pejabat AS itu dengan dirinya, yang kemudian kabar tersebut membuat gusar keluarga Kennedy. Bahkan di Indonesia sendiri sempat beredar rumor bahwa Marilyn pernah dekat dengan presiden Soekarno.

Marilyn mengawali karirnya di dunia hiburan pada medio 1949-an. Ia memulainya dengan menjadi pemeran pembantu pada sebuah film. Namun karirnya diawal tak begitu cemerlang. Di tahun tersebut ia mengalami krisis keuangan, sampai akhirnya ada yang memberinya tawaran untuk berpose bugil. Awalnya ia menolak, namun terbentur dengan kebutuhan hajat hidup akhirnya Marilyn mengambil tawaran tersebut. Fotografer Tom Kelley mengabadikan keelokan tubuhnya. Dari pengambilan foto tersebut ia mendapat upah sebesar USD 50.

Di tahun selanjutnya, Marilyn mulai menemukan karirnya di dunia film. Sejumlah film pun berhasil ia bintangi, diantaranya adalah The Sphalt Jungle, All About Eve, Gentlemen Prefer Blondes, dan Niagara. Berada dipuncak popularitas, tak lantas membuat Marilyn hidup bahagia. Dalam buku berjudul Marilyn in Manhattan: Her Year of Joy, Marilyn mengungkapkan penderitaan hidupnya selama di Hollwood. Dalam buku tersebut terungkap bahwa Marilyn Monroe sempat berada di titik nadir karena sedih dengan perannya sebagai perempuan yang bodoh (dumb blonde). Dalam sejumlah filmnya yang picisan, ia kerap mendapat peran untuk melakukan hal-hal yang bodoh. Hal ini pula yang akhirnya ia dianggap sebagai perempuan yang tak berkelas dan hanya sebagai penghibur semata. Ia banyak dibenci oleh perempuan lain namun tak sedikit pula yang membelanya.

Dalam buku Rebel Notes, Marilyn membuat sebuah catatan “seorang aktor itu bukanlah sebuah mesin. Kreativitas memulai kemunculannya dengan humanitas dan karena kau adalah manusia, maka kau merasa menderita”. Terlepas dari kontroversi, pelik kehidupan sampai dengan banyaknya dugaan atas kematian Marilyn. Ia adalah figur ikonik pada zamannya. Mulai dari seorang model, bintang film, hingga simbol kebangkitan seksualitas dan ikon budaya Pop di Hollywood. Maka tak aneh jika kemudian Andy Warhol –sang pemula kebangkitan Pop Art- tak lama setelah kematian Marilyn Monroe di tahun 1962 ia mengabadikannya ke dalam karya yang diberi judul Marilyn Monroe. Tak tanggung-tanggung Warhol membuat karya Marilyn sebanyak 50 lukisan yang diproduksi secara berkala dengan ragam warna dan impresi yang berbeda-beda.

Dengan kreativitasnya, Warhol ingin menunjukan ragam sisi kehidupan Marilyn Manroe yang begitu banyak diselimuti kehampaan, namun disisi lain perannya dalam dunia hiburan membuat Marilyn nampak seperti selebritis glamour pada umumnya. Pemaknaan itulah yang ingin Warhol tuangkan ke dalam karyanya. Meskipun pada akhirnya sebuah karya seni populer hanyalah sebuah karya seni –l‘art pour l’art, tanpa harus dibebani dengan segudang makna filosofi dibaliknya.

Untuk mendapat efek hard edges dan flat areas of colour Warhol membuat karya Marilyn Monroe menggunakan media silk-screen printmaking. Seperti karya-karyanya yang lain, Warhol sekali lagi memaknai ulang seni secara radikal. Ia mengaburkan batas-batas antara fotografi, lukisan dan produksi seni masal. Seperti dalam karya Marilyn Monroe, Warhol membuat representasi kehidupan manusia yang direpetisi ke dalam karya visual yang begitu ringan dan enak dipandang.

Agaknya Warhol membuat karya ini sebagai bentuk kekaguman dan penghormatan terkhirnya kepada Marilyn Monroe. Mengingat Warhol yang begitu gandrung akan budaya populer dengan pemikiran cemerlangnya tentang seni yang sampai hari ini masih terasa pengaruhnya.

Source : siasatpartikelir.com

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website