Newsletter subscribe

SEART-B(H)UTAN

Seni Rekayasa Persawahan dari Tanbo Art

Posted: August 7, 2020 at 9:34 am   /   by   /   comments (0)

ROCKMAGZ.ID – Suasana pedesaan selalu identik dengan hamparan sawah yang hijau, di musim panen hamparan sawah tersebut berubah warna menjadi kuning. Kedua warna itu selalu silih bergantian sepanjang musim. Namun bagaimana jika sawah disuatu pedesaan disulap menjadi sebuah karya seni yang memukau, dengan aneka warna yang muncul? Fenomena keunikan sawah macam itu bisa kita temui di desa Inakadate, Aomori, Jepang. Para petani di desa tersebut telah merubah ladang sawahnya menjadi suatu karya seni yang disebut Rice Paddy Art atau lebih dikenal dengan istilah Tanbo Art.

Tanbo Art sudah ada dan mulai dikenal luas pada tahun 1993. Tradisi melukis sawah tersebut masih dipertahankan sampai dengan saat ini. Para petani mulanya memanfaatkan varietas padi yang berbeda-beda yang menghasilkan warna berbeda pula. Kemudian mereka membuat pola gambar di pesawahan yang hendak dilukis. Prosesnya memang cukup rumit, mengingat media lukisnya adalah ladang sawah dan dimensi ukurannya pun pasti cukup luas. Perlu ketelitian dan koordinasi yang cukup ketat utuk menghasilkan karya Tanbo Art ini. Namun keterampilan dan kreativitas para petani di desa Inakadante mampu memiminimalisir kerumitan tersebut, salah satunya adalah dengan melibatkan banyak sukarelawan dan memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti komputer yang digunakan untuk membuat pola gambar dengan skala tertentu sebelum proses menggambar di lapangan.

Selain dari rumitnya teknis proses di awal pembuatan, karya seni ini pun perlu perhitungan dan kesabaran yang ekstra, mengingat gambar yang tentu tidak akan muncul begitu saja karena proses penciptaan karya ini melibatkan tanaman padi sebagai media utamanya. Perlu waktu berbulan-bulan agar warna varietas padi itu muncul dengan sempurna. Pembuatan karya seni Tanbo Art selalu dilaksanakan pada setiap tahunnya. Biasanya proses pembuatan karya tersebut dimulai saat musim gugur usai panen dan berlangsung hingga menjelang musim tanam kembali, sekitar bulan April.

Selain menjadi kepuasan estetika bagi para petani, Tanbo Art pun mampu menarik banyak para wisatawan yang juga diperbolehkan untuk mengikuti seluruh proses pembuatan karya tersebut. Industri seni hari ini kian mapan dan sibuk dengan penelusuran para seniman yang menghasilkan karya megah nan melambung harganya di pasar lelang. Tapi para petani di desa Inakadante membalikan punggung dengan kemapanan tersebut. Mereka mulai membuat karya seni dengan semangat kebersamaan dan bisa dinikmati oleh siapapun, bahkan bisa dinikmati oleh anak kecil ingusan sekalipun yang sedang bermain layangan dipinggiran sawah.

Kini Tanbo Art mulai menyebar dipelbagai daerah di Jepang. Selain di Jepang, Tanbo Art ini pun kian bisa dinikmati dibanyak negara, salah satunya adalah di Indonesia. Adalah Fuad Nasir Al Falaq, alumnus program studi Pariwisata di sebuah kampus Yogyakarta yang memulai karya Tanbo Art nya di sebuah ladang milik orang tuanya di dusun Bleber Lor, Prambanan Sleman, Yogyakarta.

Source : siasatpartikelir.com

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website