Newsletter subscribe

GIGS

SUMONAR 2020, Ihwal Pasca Perang Dunia

Posted: August 12, 2020 at 7:21 pm   /   by   /   comments (0)

ROCKMAGZ.ID – Cahaya bergerak yang menyorot ke layar kanvas, diiringi suara-suara sound yang membentuk suatu irama tapi tak ada ketuk lagi tak bermelodi itu membiaskan sebuah suasana yang sulit diucapkan. Paduan musik noise serta deskripsi visual hitam dan putih yang mengilustrasikan ihwal situasi pasca perang yang terjadi pada rentang tahun 1939 sampai 1945 berikut dampak lanjutannya itu ditampilkan oleh Indra Menus.

Karya tak berjudul, yang dipertunjukkan Menus itu merupakan bagian dari festival seni cahaya dan video mapping paling bergengsi di Asia Tenggara, SUMONAR 2020 yang bertema “Mantra Lumina” dan dihelat dari 5 hingga 13 Agustus mendatang serta dilangsungkan secara virtual. Visual pasca Perang Dunia II yang dipamerkan Menus tampak suram. Nada demi nada yang dibuat pria yang mengawali karirnya dengan membentuk band pada 1998 itu juga seolah tengah menangkap keheningan di tengah reruntuhan gedung usai berkecamuknya pertempuran.

Dari berbagai literatur sejarah, perang global yang mulanya disulut agresi Jerman ke Polandia itu memakan korban tak kurang 70 juta nyawa. Situasi setelah berakhirnya total war yang melibatkan lebih dari 100 juta orang dari berbagai pasukan militer di banyak negara itu pun tak luput menyisakan duka mendalam. Negara-negara yang terseret perseteruan mau tak mau membangun kembali daerahnya. Menus, dalam karya yang ia pamerkan itu, seakan-akan memang ingin memperlihatkan kepada khalayak luas akibat lain dari Perang Dunia II: kesunyian. Irama sound yang menyayat barangkali lambang kesunyian itu.

“Karyaku yang tak berjudul itu secara audio pada dasarnya terpengaruh oleh Kazuma Kubota dan Ryuichi Sakamoto,” kata Menus kepada Siasat Partikelir saat dihubungi melalui sambungan telepon kemarin siang, 10 Agustus. Di Jepang sendiri, Kazuma Kubota adalah pemusik punk-rock yang dipandang telah membuka cakrawala baru ke dunia musik noise di Negeri Sakura itu. Musisi noise legendaris Shunji Mikawa bahkan pernah menjulukinya sebagai ‘sang pendobrak’. Sama dengan Kubota, Ryuichi Sakamoto juga dikenal sebagai komposer yang kreasinya kerap kali mempengaruhi dan mempelopori sejumlah genre musik elektronik macam noise.

Di bawah pengaruh dua musisi besar noise itu, sepanjang pertunjukan penonton dibawa bertamasya melihat-lihat lansekap yang penuh dengan luluh lantak bangunan. Gambar yang diputar dengan beralih lambat dari satu ilustrasi ke ilustrasi berikutnya, dan dibarengi bebunyian sound yang mengoyak itu sepertinya sudah terencana diciptakan agar penonton semakin ikut larut merasakan kepedihan orang-orang yang terdampak kala itu. “Juga ingin menampilkan wajah musik noise yang beda. Selama ini kebanyakan orang menganggap noise itu ‘musik apa, sih?,” tutur Menus.

Menyangkut karya visual perangnya yang dipentaskan, Menus Berujar, dirinya sejak lama menyukai film-film yang mengisahkan peperangan, terlebih perang dunia. Bertolak dari kecintaannya ini, saat ia menjalani tur Mixtapenya ke sejumlah negara di Eropa bersama Joe Million menjelang akhir tahun 2019 lalu, ia tak lupa menyempatkan berwisata sejarah ke berbagai tempat yang menjadi ‘tuan rumah’ pertempuran terkeji dalam sepanjang kehidupan manusia itu. “Di sana aku menemukan kota seperti yang ada di film. Feelnya kena banget, karena suasananya masih sama dengan era itu,” Menus menambahkan.

Kata Menus, dirinya sengaja tak mengangkat tema Perang Kemerdekaan Indonesia lantaran secara sinematik ia kurang menyukai film-film yang mementaskan peristiwa ini. Namun demikian, ia tak menampik ke depan karyanya kemungkinan akan tampil dengan tajuk perseturuan antara Indonesia dan Sekutu itu. “Aku lagi nyari film yang tentang Revolusi Nasional Indonesia, cuma belum dapat sampai saat ini.”

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website