Newsletter subscribe

MOVEMENT

Gerakan Demonstrasi demi Acara Musik Luring Diizinkan Kembali

Posted: August 16, 2020 at 5:08 pm   /   by   /   comments (0)

ROCKMAGZ.ID – Pertengahan Maret lalu merupakan live event musik terakhir yang dijalani Kamran Haq dan timnya sebelum pagebluk Covid-19 melanda Inggris. Kamran Haq sendiri adalah salah seorang promotor musik di Live Nation, sebuah perusahaan musik ternama asal Amerika Serikat yang bergerak dalam bidang live events berupa sejumlah konser. Masuknya Covid-19 ke Inggris itu kemudian diikuti dengan pengumuman larangan menggelar pertunjukan publik termasuk konser live oleh pemerintah pusat. Sejak saat itu pula ia tak pernah bertemu dengan teman dan rekan kerjanya itu.

Meski begitu, Selasa, 11 Agustus kemarin Kamran merasa senang bukan main. Ia dan koleganya itu akhirnya dapat berjumpa lagi. Tapi pertemuannya dengan teman-temannya itu bukanlah di sebuah konser, melainkan dalam aksi unjuk rasa di Manchester. Dengan membawa spanduk bertuliskan #WeMakeEvent pada demonstrasi yang juga berlangsung sehari penuh dan serentak di berbagai kota di Inggris itu, ia bersama ribuan pekerja industri musik lainnya menuntut kepada pemerintah setempat supaya acara musik di luar jaringan internet alias luring diizinkan buka kembali untuk publik.

“Sungguh menakjubkan melihat jumlah demonstran yang begitu besar. Dalam aksi itu, semua orang mengenakan topeng dan masing-masing menjaga jarak,” kata Kamran pada majalah musik Kerrang! beberapa waktu lalu. Kamran menambahkan, tuntutan massal oleh pekerja industri musik yang disebut juga dengan ‘The Red alert day of action’ itu dilakukan untuk merespons sikap pemerintah yang hanya memberi bantuan secara terbatas kepada mereka usai kehilangan sumber pemasukan sebagai dampak atas larangan yang telah dibuat.

enjadi salah satu figur berpengaruh di Live Nation, bagi Kamran keterlibatannya dalam demonstrasi itu dirasa menjadi sebuah keharusan sebagai bentuk apresiasi dan solidaritas untuk teman dan koleganya di industri acara musik yang tengah berjuang untuk bertahan hidup. “Karena mereka tidak dapat bekerja dan dukungan yang sangat sedikit dari pemerintah akan segera berakhir. Tanpa semua orang di belakang layar seperti mereka pula mustahil akan ada acara, pertunjukan, atau festival musik secara live.”

Kamran berujar, wajar apabila ia dan ribuan orang pekerja industri musik itu menggelar aksi. Musababnya, di sektor jasa pertunjukan musik sebagaimana yang ia kerjakan itu telah menyumbang pemasukan negara hingga 100 miliar poundsterling dan turut membantu membuka lapangan pekerjaan sampai 1 juta orang di Inggris Raya. Di saat yang sama, sokongan yang tak seberapa jumlahnya dari pemerintah dan tak banyak menolong kondisi mereka itu berpotensi membuat hilangnya orang-orang terampil yang ada di balik kesuksesan sektor industri tersebut karena akan pindah ke bidang pekerjaan lain.

Kamran beserta koleganya di industri musik dalam demonstrasinya itu menyarankan agar pemerintah memberikan lebih banyak dukungan, termasuk konser musik live dizinkan buka kembali untuk publik. “Juga tidak dibatasi dengan aturan social distancing serta boleh dihadiri penonton dengan kapasistas penuh,” tutur Kamran.

Meski Kamran dan ribuan pekerja industri musik itu pesimis bila permintaannya akan dikabulkan, tapi dirinya berharap beberapa tempat dengan kapasitas yang lebih kecil segera dibuka terlebih dahulu. “Satu hal yang pasti: para penggemar musik pasti ingin pergi keluar rumah untuk melihat pertunjukan lagi dan tentunya banyak band sudah tak sabar ingin memainkan musiknya kembali!.”

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website