Newsletter subscribe

INDUSTRIE

Action Figure untuk Sang Legenda Thrash Metal

Posted: August 21, 2020 at 9:25 pm   /   by   /   comments (0)

Boneka tokoh alias action figure berwujud tiga personel grup musik legendaris beraliran trash metal, Slayer, telah diluncurkan ke pasaran. Tiga anggota band asal Amerika Serikat yang dibuatkan mainanannya itu adalah Tom Araya, Jeff Hanneman, dan Kerry King. Sementara action figures untuk Dave Lombardo akan diluncurkan belakangan. Brian Flynn, pendiri dan pemilik perusahaan action figures Super7 yang menjadi produsen mainan itu, mengatakan boneka tersebut ia buat sebagai penghormatan untuk mengenang album debut rekaman live milik band yang dibentuk pada tahun 1981 itu yang berjudul Live Undead.

“Action figures tersebut terinspirasi oleh gambar sampul ikonik dari album pertama mereka yang hanya menampilkan tiga personelnya itu,” kata Brian pada Loudersound, majalah web khusus genre musik rock klasik, metal hammer, prog dan blues. Boneka berukuran 3,75 inci yang dilengkapi dengan dua aksesori gitar itu rencananya akan dijual dengan skema pre-order yang telah berlangsung dari 19 Agustus kemarin di situs web Super7. “Aksesori lainnya adalah nisan berlumur darah. Sementara kemasannya adalah kotak persegi panjang berbentuk peti mati yang ada jendelanya.”

Ini bukan pertama kalinya produk action figure Super7 itu terinspirasi dari Slayer. Sebelumnya, industri pembuat mainan itu sudah mengeluarkan boneka berbentuk iblis Minotaur yang diilhami oleh gambar sampul dari album pertama rekaman studio bertahun rilis 1983 dengan judul Show No Mercy yang juga milik Slayer. Brian bercerita, pertama kali dirinya tahu banyak ihwal band yang mengawali karir musiknya dengan meng-cover lagu-lagu milik Iron Maiden, Black Sabbath, Judas Priest dan Venom itu dari iklan dan berbagai ulasan tentang mereka di majalah musik Thrasher.

“Besar di tahun 80-an saya sangat akrab dengan musik punk-rock, skateboard, dan metal. Tak perlu diragukan, sebagai anak remaja kami yang tumbuh di masa itu pasti sangat tertarik pada semua hal yang berbau ekstrem, dan Slayer bisa membawa kami ke titik itu,” kata dia. Super7 memang kerap memproduksi action figure untuk band-band beraliran metalhead. Beberapa tahun lalu, Super7 juga telah membuat boneka berwujud Iron Maiden, Ghost, dan banyak lagi yang telah memenuhi rak toko mainannya.

Live Undead dan Show No Mercy tak sedikit yang memandang memang layak diberi penghormatan sebagaimana action figure yang sudah dibuat Super7. Musababnya, Live Undead sendiri, misalnya, telah menjadi salah satu album paling legendaris milik Slayer. Tapi demikian, bukan berarti Live Undead tak memiliki kontroversi yang klaimnya direkam secara live performance. Banyak kalangan musik menyayangkan terkait rumor yang mengatakan bahwa rekaman suara penonton di dalam album itu sebenarnya ditambahkan di studio, alih-alih direkam di atas panggung. Artinya, menurut mereka album ini tak direkam live performance. Inilah kemudian yang membuat Joel McIver, penulis buku biografi Slayer yakni The Bloody Reign of Slayer, bertanya langsung kepada produser sekaligus engineer album Live Undead, Bill Metoyer, yang telah mengerjakannya di Los Angeles. Metoyer pun menjawab: “Saya tidak tahu apakah saya harus memberi tahu Anda (jika suara kerumunan penonton itu palsu)! Bukankah itu salah satu rahasia industri? Anggap saja itu adalah rekaman langsung.”

Dalam reviewnya, jurnalis musik dari Allmusic Ned Raggett mengatakan adanya rumor itu bisa jadi benar. Malah, Ned menduga suara kerumunan yang terekam di album itu kemungkinan berasal dari fans berat mereka sendiri yang hadir di studio. Terlepas dari kontroversi album, Ned menilai dibanding album Decade of Aggression, Live Undeadnya Slayer memang kumpulan lagu yang cocok bagi mereka yang jadi penggemar berat musik hardcore. “Tapi, jika ingin melihat Slayer jadi diri mereka sendiri, Live Undead wajib kita nikmati,” tulis dia di situs web Allmusic. Adapun album Slayer berjudul Show No Mercy menjadi album dengan penjualan tertinggi yang direkam di bawah naungan Metal Blade Records. Terjual antara 15.500 sampai 20.000 eksemplar hanya di Amerika Serikat saja. Belum lagi, di luar negeri album ini sukses terjual hingga 15.000 di awal masa perilisannya.

Bahkan, hingga saat ini Show No Mercy mendapat sambutan bagus dari berbagai kalangan musik. Jurnalis musik dari Metal Forces yakni Bernard Doe, misalnya, menyebut album ini jadi salah satu album paling mengagumkan sepanjang masa. Sementara majalah musik asal Jerman Rock Hard memberikan sebuah review positif untuk Show No Mercy, dengan menyatakan kumpulan lagu ini memiliki ritme paling sulit dan tercepat daripada lagu-lagu milik Metallica dan Exciter. Saking kagumnya dengan hentakan musik Show No Mercy, Rock Hard sampai-sampai mendefinisikan album Slayer itu masuk dalam genre “heavy metal punk”. Senada dengan yang lain, Terry Butler, yang merupakan personel grup musik beraliran death metal Obituary dan mantan anggota band Death, mengatakan Show No Mercy bisa menjadi inspirasi bagi band-band yang bergenre death metal. “Ketika saya mendengar lagu-lagu dalam album Show No Mercy, saya ingin bermain seperti itu …. Hentakan musik yang benar-benar baru dari genre musik cadas. Saya ingin bermain seperti itu,” kata Terry pada tahun 2013 lalu saat diwawancara majalah musik The Metal Crypt untuk mengenang kontribusi Jeff Hanneman di dunia musik cadas.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website