Newsletter subscribe

ROCKSTAR ATTITUDE

ERKAEM: Rumah Singgah Para Gerilyawan Kesenian Di Lombok

Posted: October 1, 2020 at 8:39 pm   /   by   /   comments (0)

Kenyataannya, Lombok tidak hanya menyimpan ragam keindahan alam, dibaliknya Lombok menyimpan juga semangat para seniman untuk terus berkarya dan menebar setiap gagasannya. Adalah ERKAEM akronim Rumah Kucing Montong yang merupakan sebuah komunitas dan ruang kreatif yang terus berupaya mengakomodir letupan-letupan ide dan gagasan para seniman itu. Meskipun kadang terbentur dengan pelbagai keterbatasan, Erkaem terus bergerilya untuk menemukan dan mengembangkan segala kemungkinan serta potensi baru yang berada di luar tradisi dan budaya arus utama.

“Pada dasarnya Erkaem selalu berprinsip memaksimalkan keterbatasan dan sadar akan selalu berusaha menjadi komunitas yang berada diluar arus utama. Selalu mem provokasi sekitarnya untuk semangat mengusung kesenian sebagai hal yang penting dalam kehidupan keseharian” ungkap Ary Juliyant kepada Siasat Partikelir ketika dihubungi secara online.

Buah dari provokasi yang didengungkan oleh sang musisi folk gaek itu akhirnya melahirkan banyak peristiwa kesenian yang terjadi di Rumah Kucing Montong. Menjadi ruang yang padat agenda dan komunitas padat karya, Erkaem berevolusi menjadi rumah singgah para seniman dengan latar belakang yang beragam . Setiap lini kesenian pun tersentuh, dari sastra, musik, teater, film, sampai dengan seni rupa, maka tak aneh jika kemudian beranda media sosialnya kerap dipenuhi dengan poster acara, dari acara diskusi, pameran lukisan, sampai dengan pentas musik. Baru-baru ini Jason Ranti dan Iksan Skuter lah yang singgah di rumah tersebut.

Rumah Kucing Montong sendiri mulanya adalah kediaman pribadi Ary Juliyant yang terletak di Lingkungan BTN Montong Kedaton, Blok D No.9 Meninting, Batulayar, Lombok Barat. Bermula dari Yuga Anggana, seorang dosen cum musisi yang kerap mengajak para mahasiswanya untuk melakukan kelas tambahan di rumah Ary Juliyant. Seiring dengan berjalannya waktu, tak hanya sekedar kelas tambahan saja yang dilakukan tetapi juga diskusi terbuka dengan diselingi pentas sederhana oleh Ary Juliyant. 14 September 2016 ditandai dengan sebuah kegiatan bertajuk Ngopi Sore akhirnya komunitas Erkaem resmi terbentuk, tak hanya komunitas saja tetapi rumah Ary Juliyant pun bertransformasi menjadi sebuah rumah gerakan para gerilyawan kesenian.

Selain berbincang dengan Ary Juliyant, saya pun berkesempatan melakukan wawancara bersama Yuga Anggana, yang tak lain adalah direktur dari ruang Erkaem. Di bawah ini adalah percakapan bersama Yuga yang dilakukan secara daring.

Awal mula terbentuknya Erkaem itu seperti apa, sampai akhirnya bisa menjadi sebuah komunitas dan ruang gerak kesenian di Lombok. Bisa diceritakan?

Saya merantau dari Tasikmalaya ke Lombok, untuk bekerja mengajar di salah satu universitas di Lombok. Karena belum punya tempat tinggal tetap, saya nebeng di rumah kang Ary Juliyant yang biasa disebut oleh tetangga-tetangganya dan orang lain dengan sebutan rumah kucing montong. Sekali waktu saya mengajak mahasiswa saya ke rumah kucing montong untuk sekedar kelas tambahan atau mengerjakan tugas. Dari sanalah ide untuk membuat acara diskusi yang lebih umum muncul. Biar diskusinya gak kaku sy suruh kang ary untuk bernyanyi satu dua lagu. Kegiatan itu akhirnya jadi rutin seminggu sekali tiap hari Rabu sore. Kami beri judul acara Ngopi Sore dengan konsep acara Diskusi dan Pentas Seni sederhana

Kawan penggiat seni lainnya mulai ikut hadir ada pelaku teater, pelukis, pemural, pemusik, sastrawan dan lainnya. Akhirnya di beberpa pertemuan diskusi dan pentas berkembang dengan topik-topik khusus misalnya membahas sastra, atau monolog dan lainnya. Begitu awalnya hingga kini terus berkembang beranak pinak menjadi program-program lainnya.

Lalu akhirnya kami sepakat mendeklarasikan RKM menjadi sebuah komunitas gerakan gerilya kesenian bernama KOMUNITAS ERKAEM…

Saat itu di Lombok, kegiatan dan ruang untuk mengadakan diskusi belum terlalu banyak digelar jadi kegiatan pentas seni sederhana dan diskusi Komunitas Erkaem cepat menyebar dari mulut ke mulut terlebih tempat diskusinya adalah rumah dari seorang seniman besar sekelas Ary Juliyant menjadi magnet tersendiri.

Ary Juliyant kerap menyebut gerakan di Erkaem ini sebagai provokasi untuk seniman lain agar terus berkarya dan berkesenian. Sejauh ini provokasi tersebut berhasil?

Soal berhasil atau tidak mungkin perlu verifikasi lebih lanjut ya. Tetapi yg saya simak, semenjak ada komunitas Erkaem dengan program-programnya, semakin banyak penggiat seni (terutama seniman muda) yg terlibat di dalamnya, mereka kerap datang tiba-tiba ke Erkaem hanya untuk membuat karya: melukis, menggambar, atau membuat lagu di Erkaem.

Fakta nyata: dua kelompok musik lahir dan membuat albumnya di studio rekam Erkaem, kelompok musik tersebut bernama Tunggang Gunung (rock) dan Yoiakustik (balada). Yoiakustik malah sudah merilis tiga album yg ketiganya dibuat,dilatihankan, direkam dan diproduksi di Erkaem.

Fakta lain yang kami saksikan: seorang penggiat seni patung (seni kriya) bernama Ade Kusuma yg sudah puluhan tahun berhenti mematung, tiba-tiba meminta Erkaem untuk membuatkan dia pameran seni patung untuk patung-patung kayunya yang ia akui dibuat setelah ia berdialektika dengan Erkaem.

Hal lainnya, kini banyak komunitas yg bergerak di bidang seni yg mereka akui lahir atau membuat program-program kesenian setelah mereka bersentuhan dengan Erkaem, dan kini menjadi rekan kami dalam bergerak diantaranya: Komunitas Perupa Rumah Pengsong di Lombok Barat, Komunitas Utara Bergerak di Lombok Tengah, dan program Pura-Pura Seni Rupa di komunitas Pondok Pitamin Lombok Utara.

Dari pergerakannya juga Erkaem kerap diajak bekerjasama oleh pihak instansi pemerintahan. Diantaranya di tahun 2019, teman2 erkaem dipercaya menggarap dilm dokumenter seni tradisi Tari Gandrung Lombok dan Prosesi Adat Perang Topat. Kini di tahun 2020 Erkaem mulai menambah unit usaha untuk kemandirian komunitas. Erkaem menjual merchandise mulai dr tshirt, sepatu lukis, tas kain kanvas dan lainnya yg rata-rata estetis hasil dari karya teman-teman Erkaem sendiri.

Berarti menjadi ruang multi-disiplin kesenian ya. Erkaem sepertinya selalu padat kegiatan nih. Selanjutnya ada agenda apa di Erkaem?

Ya, awalnya hanya diskusi dan pentas seni musik sederhana. Kini Erkaem gerak di banyak bidang seni termasuk film dan media baru lainnya. Programnya ada banyak namun rencana erkem ke depan berharap melakukan:

1. Inventarisir: pemetaan pendokumentasian karya2 seni dan sumber daya manusia penggiat seni

2. Membuat program khusus untuk eksplorasi dan inovasi karya seni semacam laboratorium seni

3. Dan merencanakan program-program dalam bentuk digital seperti konser virtual, podcast dan lainnya untuk menjawab tantangan global dan kondisi juga sih masa pandemi. Mungkin sudah banyak dilakukan teman2 di luar lombok tapi untuk di lombok kegiatan yg kami rencanakan masih sangat sedikit…

Di kondisi pandemi seperti sekarang ada pengaruhnya ke aktivitas di Erkaem?

Tentu ada, karena kebetulan posisi sekretariat Erkaem berada di tengah perumahan jadi kami cukup kesulitan melakukan aktivitas keramaian tidak enak sama warga. Tapi untungnya gagasan tetap tidak terbatas. Di masa pandemi Erkaem sempat bekerja sama dengan komunitas lain (V3E Management) membuat konser 3 ruang dimana undangan terbatas, jaga jarak dan protokol kesehatan lainnya dan disiarkan langsung di medsos. Dokumentasi kalo tak salah ada di Instagram Erkaem. Program pameran Diam Diam Seni Rupa pun menjadi dibatasi, orang yg datang diatur sedemikian rupa. Artinya kegiatan fisik memang terbatas tapi show must go on lah kang hehehe, untung teknologi juga banyak membantu

Oia banyak juga ya seniman dari luar lombok yang bikin kegiatan di Erkaem. Kalo misal teman-teman dari luar Lombok yang lain mau bikin kegiatan, misal tur musik atau pameran rupa, gimana prosesnya kang? Adakah kurasi tertentu

Kami punya program spontanitas bertajuk Temu Tamu, khusus untuk saat ada tamu dari luar Lombok datang. Tidak ada kurasi khusus untuk itu, siapapun diperbolehkan dengan tetap beradaptasi dengan ruang minimalis di erkaem.

Di wilayah musik perkembangan di sana hari ini seperti apa?

Secara garis besar perkembangannya progressif, musisi Lombok saya simak semakin mandiri, mampu memproduksi karya/albumnya sendiri, membuat acara sendiri, memasarkan karyanya sendiri tentu dengan dukungan agregator digital store dan media online lainnya. Kekaryaan dan musikalitasnya pun semakin berkembang seiring dengan banyaknya referensi dan influence bagi mereka. Baik lewat event besar atau yg mereka serap dr media online.

Satu lagi, berkembangnya pemusik Lombok juga beriringan dengan menjamurnya komunitas-komunitas seni disini yg mewadahi mereka.

Untuk Erkaem sendiri sosok musisi Ary Juliyant apakah berpengaruh banyak?

Sangat. Nama Ary Juliyant sudah menjadi tokoh musik calon legendaris di Lombok, saya rasa di luar Lombok juga. Hingga kini pun Erkaem identik dengan nama Ary Juliyant, tapi saya dan teman-teman lain di Erkaem justru bangga juga akan hal itu, karena memang Ary Juliyant layak menjadi ikon. sebenarnya posisi Ary Juliyant di struktur keorganisasian Erkaem adalah pembina, dan saya ketua. Tapi org lebih senang menyebutnya sang presiden dan saya disebut direktur.

Ada harapan tertentu untuk Erkaem kedepannya?

Erkaem sebagai salah satu wadah untuk berkesenian, dengan program diskusi, pentas seni, dan segala aktifitas seninya, diharapkan menjadi rumah pegerakan kesenian yang mampu berkontribusi mengembangkan pengetahuan dan pengalaman, mewujudkan proses kreatif dan analitis, meningkatkan kehidupan berkomunitas, juga mendorong terjadinya interaksi antarbudaya, dan yang paling utama: mendorong untuk terus berkarya.

Source : siasatpartikelir

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website