Newsletter subscribe

ROCKSTAR ATTITUDE

Mengenal Lebih Jauh Sosok Geisha, Pelestari Budaya Tradisional Jepang

Posted: Februari 21, 2021 pukul 3:41 pm   /   by   /   comments (8)

ROCKMAGZ.ID – Geisha adalah pekerja seni dan budaya Jepang yang bertugas untuk menghibur. Dilansir Culture Trip, Geisha dianggap sebagai pelindung budaya dan adat kuno. Mereka adalah seniman yang menghibur tamunya dengan beragam cara. Seperti menemani untuk berbincang, bernyanyi, menari, atau minum teh. Saat ini, kita bisa menemukan banyak geisha di kota Kyoto.

Istilah geisha berasal dari bahasa Jepang, yaitu huruf kanji untuk “seni” 芸 (gei) dan “pelaku” 者 (sha) yang berarti seniman pertunjukan. Dalam budaya tradisional maupun kontemporer, geisha biasanya disewa sebagai guru budaya. Geisha tinggal dalam sebuah rumah yang dikenal sebagai Okiya. Di Okiya, kamu akan menikmati pengalaman mencicipi budaya Jepang yang orisinil dan klasik, misalnya seperti mengikuti upacara minum teh, bernyanyi, menari, atau sekadar berbincang.

Di masa lampau, sebenarnya geisha bukanlah perempuan. Mereka awalnya adalah laki-laki yang lebih dikenal sebagai taikomochi di abad ke-13. Tugasnya sama, mereka bekerja sebagai seniman yang menghibur tamunya dengan menampilkan budaya klasik Jepang.

Geisha wanita diketahui baru ada pada Zaman Edo, tepatnya abad ke-18. Hanya perlu 25 tahun, geisha wanita menjadi lebih populer dan jumlahnya melampaui taikomochi, terutama ketika Perang Dunia II, Jepang mengalami perubahan yang besar.

Ketika itu, taikomochi bahkan dengan cepat menjadi jenis pekerjaan yang hampir punah. Kini hanya ada lima taikomochi saja yang bekerja di Jepang, empat orang di Tokyo dan satu orang lainnya di Kyoto. Sementara geisha, seiring waktu walaupun tak ada angka pasti dalam catatan, diperkirakan ada sekitar 600 orang yang bekerja di seluruh Jepang. Walaupun jumlah ini dinilai menurun banyak dari angka 40-80 ribu selama era Shōwa awal (1926-89), jumlah ini masih jauh lebih banyak dari pada taikomochi.

Sejak dulu hingga sekarang, pusat geisha berada di Kyoto. Geisha di Kyoto lebih dikenal sebagai Geiko, sementara para wanita yang masih belajar menjadi geisha dikenal sebagai Maiko.

Maiko biasanya berusia sekitar 15-20 tahun, di luar Kota Kyoto, mereka dikenal sebagai Hangyouku. Untuk bisa menjadi geisha, seorang wanita mesti berlatih selama lima tahun. Ia mesti memahami cara merangkai bunga, menarikan tarian dan bernyanyi lagu tradisional, mampu memainkan alat musik tradisional seperti shamisen, dan juga mengerti upacara minum teh.

Geisha yang telah berpengalaman biasanya akan punya kelebihan lebih dari itu. Mereka memiliki etika yang baik dan mampu menghibur kliennya dengan baik.Itu sebabnya, walau telah resmi menjadi geiko, para wanita ini tetap akan mengambil kelas seni dan budaya untuk belajar serta berlatih untuk mengasah keterampilannya. Kemampuan bercakap yang baik, keindahan tarian yang mereka bawakan, cara mereka dalam menjamu tamu ketika upacara minum teh dianggap sebagai ‘ciri’ kemewahan.

Geisha di Jepang dianggap sebagai wanita yang ‘berkelas’, tak bisa sembarangan disewa orang, dan juga tak bisa sembarangan diperlakukan. Geisha juga biasanya hanya disewa oleh orang-orang kaya. Acara bisnis atau pertemuan yang digelar dengan membawa geisha sebagai penghiburnya dinilai memiliki status sosial yang lebih tinggi.Karena itulah geisha dianggap sebagai orang-orang yang terpelajar dan hingga kini tetap ada.

Comments (8)

write a comment

Comment
Name E-mail Website